SELAMAT DATANG DI BLOG MI MUHAMMADIYAH KARANGLO CILONGOK "UNGUL IMTAK, IPTEK DAN PRESTASI, BERAKHLAK MULIA" لاحول ولا قوة إلا بالله
  • Para Juara Aksioma TA 2015-2016

    MI Muhammadiyah Karanglo Cilongok

  • Tenaga Pengajar

    MI Muhammadiyah Karanglo Cilongok

  • Pembekalan Tapak Suci

    MI Muhammadiyah Karanglo Cilongok

Sabtu, 10 September 2016

ROHMAN S.Pd.I



ROHMAN S.Pd.I

Guru Madya Tk.I / Guru Kelas, pada MIS dilingkungan Kabupaten Banyumas Provinsi Jawa Tengah ( MI Muhammadiyah Karanglo )
rohman130@ymail.com


NIP 197703132007101002
NIP Lama 150415178
Tempat/Tanggal Lahir Banyumas, 13/03/1977
Jenis Kelamin Laki-Laki
Agama Islam

PROFIL GURU PROFESIONAL

Kita sebagai guru memegang peranan yang sangat penting dalam pembentukan sebuah generasi. Tanggung jawab yang diemban guru sangatlah besar. Banyak sekali orangtua yang menyerahkan buah hati mereka untuk kita didik, kita ajar, dan kita bina dengan kepercayaan penuh agar buah hati mereka itu menjadi anak-anak yang cerdas, berilmu pengetahuan, juga berakhlak mulia.

Guru adalah teladan. Guru itu digugu dan ditiru. Seorang guru harus memiliki kontrol diri yang sangat besar, bahwa apa yang kita ucapkan dan kita lakukan akan menjadi rujukan bagi anak didik kita bahkan masyarakat di sekitar kita. Maka apa jadinya jika seorang guru dalam kesehariannya senantiasa berkata dengan perkataan yang kasar, berperilaku yang menyimpang dari etika dan moral. Hal ini tentu akan memberikan dampak buruk bagi anak didik kita dan tentu akan mencoreng citra profesionalitas guru.

Sejalan dengan telah bergulirnya Undang-Undang Guru dan Dosen, bahwa guru profesional harus melewati proses “UJI SERTIFIKASI” yaitu proses mendapatkan sertifikat guru profesional. Dimana tujuan sertifikasi tersebut adalah : (1) Menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional (2) Meningkatkan kualitas proses dan hasil pendidikan (3) Meningkatkan profesionalitas guru (4) Meningkatkan kesejahteraan guru. Sertifikasi guru ini harus dipahami secara utuh yaitu tidak hanya dipahami dengan mendapatkan sertifikat guru profesional, guru meningkat kesejahteraannya tetapi yang paling penting justru memahami seperti apa profil guru profesional yang diharapkan dalam dunia pendidikan itu.

Profil guru profesional telah ada rambu-rambunya diantaranya memiliki kualifikasi pendidikan S-1. Memiliki kompetensi pendidik yaitu (1) Kompetensi pedagogis (pemahaman tentang peserta didik, perancangan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran). (2) Kompetensi Kepribadian (memiliki kepribadian mantap dan stabil, dewasa, arif, dan berakhlak mulia). (3) Kompetensi Profesional (menguasai keilmuan bidang studi yang diampunya, mampu menelaah secara kritis, kreatif dan inovatif). (4) Kompetensi Sosial (mampu berkomunikasi dan bergaul dengan peserta didik, kolega, dan masyarakat dengan baik).

Menjadi guru adalah tugas mulia tetapi juga sulit dan berat. Tugas ini menuntut seorang guru untuk sabar, amanah, ikhlas, dan penuh perhatian terhadap anak-anak didiknya. Para pakar pendidikan telah banyak melahirkan teori-teori pengajaran dan terus melakukan reformasi untuk memperbaiki teori-teori pengajaran itu agar tetap up to date atau sesuai dengan perkembangan zaman. Kita sering lupa bahwa Rasulullah Muhammad SAW adalah guru yang lahir 14 abad lalu yang jelas diri Rasulullah adalah teladan yang utama untuk kita : “Sesungguhnya telah ada dalam diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (Al-Ahzaab : 21). Sifat-sifat yang harus dipelihara oleh guru adalah: a. mengiklaskan ilmu kepada Allah (dengan ilmunya bertujuan semata-mata untuk memberi manfaat kepada sesama bukan untuk mendapatkan pujian, pangkat, kedudukan dan semacamnya), b. Jujur, c. Sesuai antara perkataan dengan perbuatan, d. Adil dan egaliter, e. Menghiasi diri dengan akhlak mulia dan terpuji, f. Tawadhu (rendah hati yaitu tidak sombong, bukan rendah diri), g. Berani, h. Bisa bercanda (untuk menghindari rasa bosan dan jenuh), i. Sabar dan menahan amarah, j. Menghindari ucapan kotor dan keji, k. Mampu berkoordinasi atau bermusyawarah dalam mengambil keputusan dengan teman sejawat. (Silahkan baca buku GURUKU MUHAMMAD ditulis oleh Fu’ad Asy Syalhub).

Guru adalah pembawa obor peradaban, posisinya sebagai penyampai ilmu, pencerdas bangsa, memang ibarat cahaya dalam kegelapan. Sosok dan perilakunya bahkan mengajarkan lebih banyak hal daripada materi yang disampaikannya. Memang guru juga manusia, yang tak luput dari salah dan dosa. Tetapi harus disadari betul bahwa baik buruknya suatu generasi adalah gambaran dari baik buruk guru-gurunya. Sekali lagi guru punya andil yang sangat besar terhadap pembentukan suatu generasi. Menjadi Guru adalah suatu pilihan yang punya konsekuensi besar, bukan suatu pekerjaan biasa yang hanya untuk mencari rupiah. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita kekuatan untuk terus berupaya meningkatkan kulitas diri kita sehingga kita bisa benar-benar menjadi GURU PROFESIONAL secara utuh.

Jumat, 09 September 2016

Prof. Dr. Muhammad Sirajuddin Syamsuddin, MA

Prof. Dr. Muhammad Sirajuddin Syamsuddin, MA dikenal pula dengan nama pendek dan lebih populer, Din Syamsudin. Suami Fira Beranata ini lahir di Sumbawa Besar, 31 Agustus 1958. Selama mengarungi bahtera rumah tangganya, Din Syamsuddin dikarunia dua putra dan seorang putri yang masing-masing memiliki nama indah. Yaitu, Farazahdi Fidiansyah, Mihra Dildari dan Fiardhi Farzanggi.
Kiprah Din Syamsuddin di Persyarikatan Muhammadiyah dimulai sejak tampil menjadi Ketua Umum sementara Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah, dan Wakil Ketua Muhammadiyah. Alur kiprah kepemimpinannya di Muhammadiyah terbilang unik karena berangkat dari bekal pendidikan dasar dan menengah di Madrasah Ibtidaiyah Nahdhatul Ulama dan Madrasah Tsanawiyah Nahdhatul Ulama Sumbawa Besar. Di masa itu, Din Syamsuddin juga mendapat kesempatan memimpin Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama, IPNU Cabang Sumbawa (1970 - 1972). Tamat dari Ponpes Modern Gontor, Din Syamsuddin melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi dan berhasil menyelesaikan studi sarjana Ushuluddin jurusan Perbandingan Agama di IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta (1980).
Seumpama biduk yang terus melenggang di pusaran arus dan riak gelombang kehidupan, semangat Din Syamsuddin mendalami khazanah ilmu dan cakrawala Islam tak terjeda aral melintang. Salah satu sumber spiritnya adalah mertuanya sendiri, Darnelis binti Thaher. Dalam ranah kecil keluarganya, istri dan putra putrinya mengenal sososk Din Syamsuddin sebagai ayah dan suami pendidik yang santun nan kaya teladan. Tak heran, jika seluruh aktivitasnya mendapat dukungan penuh dari keluarganya. Pada kesempatan terakhir saat melepas jenazah sang mertua, Din Syamsuddin mengungkapkan bahwa ibu mertuanya selalu mendukung gerak hidupnya. Bahkan, saat hendak memulai studi di Amerika hingga ketika akan mencalonkan diri menjadi ketua umum PP Muhammadiyah.
“Sejak awal kami memang sudah berkomitmen untuk menjadi keluarga yang saling mendukung,” ungkapnya tak tahan dibeslah rasa haru.
Ketekunan belajar dalam girah Islam yang pantang surut itu, berhasil mengantar Din Syamsuddin menempuh pasca sarjana Interdepartmental Programme in Islamic Studies di University of  California Los Angeles (UCLA) USA hingga meraih gelar MA, dan menyandang gelar doktor di universitas yang sama pada tahun 1996. Setelah kembali ke tanah air, Din Syamsuddin sempat bersinggungan dengan dunia politik praktis dengan mengomandani litbang Golkar. Dan sebagai akademisi, sehari-harinya Din Syamsuddin malang-melintang menggeluti profesi Dosen di berbagai Perguruan Tinggi seperti Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), UHAMKA dan Universitas Indonesia (UI). Pada tahun-tahun berikutnya, berkesempatan pula mendapat berbagai tugas kenegaraan yang cukup penting, diantaranya sebagai Anggota Dewan Riset Nasional, Dirjen Binapenta Departemen Tenaga Kerja RI, Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) hingga tugas lain yang tak kalah penting seperti Sekretaris Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim Iindonesia, ICMI.
Sebagai cendekiawan muslim yang cukup konsen mendorong proses demokratisasi, Din Syamsuddin merasa berkepentingan untuk turut mengawal arah perkembangan dan kemajuan proses demokrasi di negara yang memiliki pemeluk Islam terbesar di dunia ini. Ikhtiar mulia ini, tercermin dalam sebuah statemennya: Kemenangan politik Islam di Indonesia tidak hanya ditandai oleh perolehan suara partai-partai Islam dan penguasaan posisi politik kenegaraan. Tapi pada sejauh mana nilai-nilai Islam seperti keadilan, kebenaran dan persamaan dapat menjadi bagian dari  watak bangsa. Ini yang harus terus diperjuangkan bersama seluruh komponen bangsa.
 
Sementara di kancah internasional, Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ini telah menorehkan kiprah yang tak sedikit dalam usahanya merajut relasi konstruktif dan menyuarakan urgensi hubungan damai antar pemeluk agama melalui berbagai forum yang domotorinya seperti World Peace Forum/ WPF, Asian Committee on Religions for Peace/ ACRP, Tokyo. World Conference on Religions for Peace/ WCRP, New York. World Council of  World Islamic Call Society, Tripoli. World Islamic People’s Leadership, Tripoli. Strategic Alliance Russia based Islamic World. UK-Indonesia Islamic advisory Group.

Profil Madrasah

MI Muhammadiyah Karanglo memiliki letak yang strategis karena mudah dijangkau dengan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi. Letak MI Muhammadiyah Karanglo relatif dekat dengan pusat kota. MI Muhammadiyah Karanglo beralamat di Jalan Pramuka No. 1 RT 06 RW 01 Desa Karanglo Kecamatan Cilongok dengan kode pos 53162 telepon (0281) 656271 email : mimkaranglocilongok@gmail.com Batas-batas wilayah MI Muhammadiyah Karanglo adalah :
1.      Sebelah Utara      :    Rumah Bapak Islah Mundir dan Kebun milik Keluarga;
2.      Sebelah Selatan   :    Rumah Bapak Mukamil;
3.      Sebelah Barat      :    Jalan Desa
4.      Sebelah Timur     :   Kebun milik Bapak Sudiro, S.Pd.I.

DOWNLOAD | Profil Madraash